Tinjauan Buku: Dekolonisasi Filologi (di) Indonesia

Abimardha Kurniawan

Abstract


Dalam sejarahnya, tradisi ilmu filologi yang berkembang di Indonesia—khususnya pada lembaga-lembaga pendidikan tinggi yang memiliki bidang kajian sastra—tidak bisa dilepaskan dari arus besar kolonialisme yang pernah melanda negeri ini. Kaum orientalis kolonial memperkenalkan suatu konsep serta pendekatan yang “asing” untuk memahami bahasa serta tradisi teks masyarakat pribumi di negeri jajahan mereka. Tujuannya jelas. Filologi dijadikan elemen penggerak mesin kekuasaan kolonial dan dikemas dalam sebuah label “misi pemberadaban”—sebuah idiom yang terdengar begitu agung dan mulia. Dalam kasus Jawa, misalnya, kajian filologi tumbuh subur setelah pecah pemberontakan Diponegoro (1825—1830 AD) yang begitu melelahkan dan berimbas pada kerugian material yang sangat besar bagi pihak kolonial. Filologi menjadi bagian dari “keinsyafan” akan hal itu. Ketika itu pihak kolonial belum memiliki sosok antropolog semacam Christiaan Snouck Hourgronje yang berhasil meredam perlawanan masyarakat Aceh di akhir abad XIX melalui saran-saran ilmiahnya. Mereka sadar, manusialah aspek sentral yang harus dipahami sebelum ideologi kolonial bisa ditanamkan dan kekuasaan mereka bisa diamankan. Dalam hal ini, Belanda termasuk lambat dibanding kompetitornya, yakni Inggris, yang telah mengoperasikan cara semacam itu di wilayah-wilayah koloninya.

Keywords


tinjauan buku; dekolonisasi; filologi; kodikologi; resensi buku

Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.37014/jumantara.v8i1.269

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2019 Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Sekretariat:
Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara
 - Perpustakaan Nasional RI
Jalan Medan Merdeka Selatan, Nomor 11, Jakarta Pusat