Sabdopalon dan Nayagenggong Sebagai VidūṢaka dalam Serat Babad Pati

Mohammad Taufiqul Hakim

Abstract


Penelitian ini mendudukkan Serat Babad Pati (selanjutnya disingkat SBP) sebagai teks sastra. Babad, atau sastra babad, diartikan sebagai buku yang membicarakan sejarah suatu daerah dan golongan masyarakat menurut anggapan waktu itu. Melalui gagasan Edward Said, yakni hermeneutika filologi, didapati pemahaman bahwa Sabdopalon dan Nayagenggong berperan sebagai pamong Raden Kembangjaya yang mempunyai sifat jenaka (vidūṣaka). Mereka senantiasa bergurau kala mendampingi sang majikan. Lebih dari itu, Nayagenggong yang juga berperan sebagai ayah Sabdopalon, berkedudukan sebagai yajamāna. Dalam tataran ritual, yajamāna ialah seorang pengatur perang. Sementara, tokoh yang berperan sebagai yajña, atau ‘yang diatur’ di dalam peperangan ialah Raden Kembangjaya, pendiri Kadipaten Pesantenan, cikal bakal Kadipaten Pati. Nayagenggong berjasa atas kemenangan Negeri Carangsoka atas Paranggaruda. Pertapa tua ini menyuruh Raden Sukmayana, Raja Negeri Carangsoka untuk menyerahkan keris Kyai Rambut Pinutung kepada Kembangjaya. Dengan begitu, pemimpin Paranggaruda, Adipati Yujopati dapat dikalahkan dan terciptalah perdamaian dunia.

Keywords


Serat Babad Pati; Sabdopalon Nayagenggong; Hermeneutika filologi; Vidūṣaka; Yajamāna; naskah; manuskrip

Full Text:

PDF

References


Admin. 2009. “Sabdopalon Nayagenggong dalam Naskah Nusantara Dibedah Tuntas.”http://kelembagaan.pnri.go.id/beranda/berita/index.php?box=dtl&id=934&from_box=lst&hlm=21&search_region=&search_lingkup=&search_activation=&search_keyword= Diakses pada Sabtu, 25 Juni 2015 pukul 00.43 WIB.

Any, Andjar. 1979. Rahasia Ramalan Jayabaya Ranggawarsita & Sabdopalon. Semarang: Aneka.

Bijlmer, J., Joordan, R. Dan Niehof, A. 1992. “Review of Creating Indonesian Cultures” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. Vol. 148, No. 1 1992.

Damshauser, Berthold. 2012. “Teks, Susastra dan Pertukaran Budaya”. Jurnal Kritik. Vol. 2, No. 3. 2012.

Dharma, Laga Adhi. 2011. Yuddha sebagai Yajña dalam Sĕrat Kangjĕng Kyai Surya Raja. Skripsi Jurusan Sastra Nusantara, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.

Halliday dan Ruqaiya Hasan. 1992. Bahasa, Konteks dan Teks: Aspek-aspek Bahasa dalam Pandangan Semiotik Sosial. terjemahan Asruddin Barori Tou . Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Hakim, Moh. Taufiqul. 2014. “Estetika di dalam Hikayat Malim Deman” Jurnal Manuskrip Nusantara (Jumantara). Vol. 5, No. 2.

Harianti, M. Pd., V. Indah Sri Pinasti, M. Si. dan Sudrajat, S. Pd. 2007. Perang Tanding Adipati Jayakusuma Melawan Panembahan Senopati dalam Babad Pati. Laporan Hasil Penelitian Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.

Hutomo, Suripan Hadi., dkk. 1984. Penelitian Bahasa dan Sastra Babad Demak Pesisiran. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Koller, John M. 1972. “Dharma: An Expression of Universal Order” dalam Philosophy East and West, Vol. 22, No. 2, hlm 131-134.

Lestari, Dwi. 2014. Mitos Genuk Kemiri di Kabupaten Pati: Analisis Struktural Levi-Strauss. Skripsi Jurusan Sastra Nusantara Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.

Noriah Mohammed. 2010. “Sabdo Palon dan Naya Genggong dalam Naskah Melayu.” Jurnal Manuskrip Nusantara (Jumantara). Vol. 1, No. 2 2010.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ricklefs. M. C. 2002. Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi 1749-1792. Yogyakarta: Mata Bangsa.

Ricoeur, P. 1981. Hermeneutics and The Human Sciences, Essays on language, action and Interpretation. Cambridge: Cambridge University Press.

Said, Edward. 2004. Humanism and Democratic Criticism. New York: Columbia University Press.

Saidi, Acep Iwan. 2008. “Hermeneutika, Sebuah Cara untuk Memahami Teks”. Jurnal Sosioteknologi. Vol. 13. 2008.

Soedewo, Ery. 2007. Perbandingan Representasi Pengalaman Pada Teks Prasasti Trowulan dan Kitab Undang-undang Tanjung Tanah. Medan: Tesis .

Stange, Paul. 1989. "Interpreting Javanist Millenial Imagery" dalam Paul Alexander (editor). Creating Indonesian Culture. Sydney: University of Sydney.

Tedjowirawan, Anung. 2009. Mitos Sekitar Penciptaan Teks Ramalan Jayabaya: Sabdo Palon Naya Genggong. dalam Prosiding Seminar Internasional Sabdopalon Nayagenggong dalam Naskah Nusantara. Jakarta: PNRI

Widyaseputra, Manu J. 2013. “Hasya-Bhakti: Semar sebagai Vidusaka dan Arjuna sebagai Durgabhakta dalam Viracarita Mahabharata Yogyakarta” dalam Prosiding Seminar Antarabangsa ke-2 Arkeologi, Sejarah dan Budaya di Alam Melayu. Bangi: Institut Alam dan Tamaddun Melayu (ATMA) Universiti Kebangsaan Malaysia bekerja sama dengan Ikatan Ahli Arkeologi Malaysia (IAAM)

Widyaseputra, Manu J. Dan Dhiyan Prastiyono. 2007. “Yajña dan Bhakti Bagi Maespati: Suvandha sebagai Refleksi Didaktik-Moralistik dari Sĕrat Purwakandha (W.16) Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.” Yogyakarta: Laporan Penelitian Panitia Sarasehan Wayang dan Pagelaran Wayang Universitas Gadjah Mada.

Wijana, I Dewa Putu. 1995. "Pemanfaatan Teks Humor dalam Pengajaran Aspek-Aspek Kebahasaan." Humaniora. Vol. 2 1995.




DOI: https://doi.org/10.37014/jumantara.v7i1.280

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2019 Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Sekretariat:
Pusat Jasa Perpustakaan dan Informasi
- Perpustakaan Nasional RI
Jalan Medan Merdeka Selatan, Nomor 11, Jakarta Pusat