Pernaskahan Melayu dan Masa Depan Bangsa Indonesia

Amin Sweeney

Abstract


Bagi orang awam zaman sekarang di Jakarta, ibu kota yang cenderung menentukan segala anggapan umum dan kearifan konven-sional untuk seluruh Indonesia, yang dikatakan “naskah” itu merupakan sesuatu yang esoteris, jauh dari pengalaman sendiri. Pengalaman saya justru sebaliknya. Semasa muda di Persekutuan Tanah Melayu yang kemudian menjadi Malaysia, saya dipekerjakan, ya dititahkan, oleh Raja Kelantan, Sultan Yahya Putra al-Marhum, mengajar puteranya Tengku Mahkota Ismail, yang kini bertakhta sebagai Sultan Kelantan. Ketika itu (tahun 1963), baginda berusia 15 tahun. Seterusnya saya berkenalan dengan beberapa orang kerabat diraja, khususnya Tengku Khalid, paman Sultan. Beliau, yang sudah tua pada masa itu, menjadi penaung seni istana yang terakhir di Kelantan. Ilmunya tentang perwayangan luas dan mendalam sekali; untung saya, karena saya sangat menaruh minat pada wayang kulit Kelantan. Namun bukan itu yang diberikan perhatian utama di sini, melainkan naskah. Di kalangan Tengku Khalid, naskah merupakan sesuatu yang terus-menerus dimanfaatkan. Beliau memiliki banyak naskah. Salah satu antaranya adalah Hikayat Seri Rama. Bagian-bagian dari kisah itu dibacakannya kepada beberapa dalang wayang kulit yang mencari bahan baru untuk diselipkan dalam versi lisan ceritanya . Sungguhpun prinsip penciptaan tetap mengandalkan sistem lisan, namun ia dapat memanfaatkan sumber tertulis.

Keywords


naskah melayu; manuskrip; naskah; Indonesia

Full Text:

PDF

References


Ajip Rosidi. 2006. Korupsi dan Kebudayaan. Jakarta: Pustaka Jaya.

Ajip Rosidi 2010. Bahasa Indonesia, Bahasa Kita. Akan Diganti dengan Bahasa Inggris? Jakarta: Pustaka Jaya.

Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949-50. Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. 2 jilid. Djakarta: Pustaka Rakyat.

Anderson, Benedict R. 1992. “The Changing Ecology of Southeast Asian Studies in the United States, 1950-1990”. In Charles Hirschman, Charles F. Keyes, Karl Hutterer (eds.) Southeast Asian Studies in the Balance; Reflections from America. Ann Arbor: The Association for Asian Studies.

Becker, Alton. 1979. “The Figure a Sentence Makes: An interpretation of a Classical Malay Sentence.” Syntax and Semantics 12: 243-59.

Behrend, T. E. (ed.). 1998. Katalog Induk Naskah-Naskah Indonesia. Jilid 4. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Jakarta: Obor, EFEO.

Eko Endarmoko. 2006. Tesaurus Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Hikayat Abdullah. 1953. Raihoel Amar Datoek Besar dan R. Roolvink (eds.). Djakarta: Djambatan.

Hikayat Abdullah. 1953a. Faksimile edisi cap batu 1849. Djakarta: Djam¬batan & Gunung Agung.

Maier, H. M. J. 1988. In the Center of Authority: the Malay Hikayat Merong Mahawangsa. Ithaca: Southeast Asia Program, Cornell University.

Mees, C. A. 1951. Tatabahasa Indonesia. Bandung.

Proudfoot, Ian. “An Expedition into the Politics of Malay Philology”. Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society 76 (1): 1-53.

Putten, Jan van der. 2001. “His Word is the Truth; Haji Ibrahim’s Letters and Other Writings”. Disertasi. Leiden: CNWS.

Putten, Jan van der. 2001. “Beberapa Renungan Terhadap Sastra Lama Nusantara”. Horison Online, Rabu, 31 Maret 2010: 1-12.

Ronkel, Ph. S. van. 1909. Catalogus der Maleische Handschriften. Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap, 57.

Sejarah Melayu. 1952. T. D. Situmorang dan A. Teeuw (eds.), Sedjarah Melaju, menurut Terbitan Abdullah. Djakarta: Djambatan.

Slametmuljana. 1956-57. Kaidah Bahasa Indonesia. Djakarta: Djambatan.

Suryadi. 2007. “Yang Tersisa dan Masih Bertahan dari Tradisi Pernas-kahan Minangkabau”. (http://www.niadilova.blogdetik.com/). Juga dalam Jurnal Filologi Melayu, Perpustakaan Negara Malaysia, Jilid 15 (2007): 101-07.

Sweeney, Amin. 1987. A Full Hearing: Orality and Literacy in the Malay World. Berkeley: University of California Press.

_____________. 2005. Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Jilid 1. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, École française ďExtrême-Orient.

_____________. 2006. Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Jilid 2.

_____________. 2008. Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Jilid 3.

_____________. 2010. “Kajian Tradisi Lisan dan Pembentukan Wacana Kebudayaan”, Horison Online, Rabu, 05 Mei.

Taju ’s-Salatin. 1999. Asdi S. Dipodjojo dan Endang Daruni Asdi (eds.). Taju’sSalatin Bukhari al-Jauhari. Yogyakarta: Lukman Offset.

Werndly, G. H. 1736. Maleische Spraakkunst. Amsterdam.

Yusuf, M (ed.), Katalogus Manuskrip dan Skriptorium Minangkabau, Tokyo University of Foreign Studies, 2006.




DOI: https://doi.org/10.37014/jumantara.v1i1.110

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2019 Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Sekretariat:
Pusat Jasa Perpustakaan dan Informasi
- Perpustakaan Nasional RI
Jalan Medan Merdeka Selatan, Nomor 11, Jakarta Pusat