Cerita Panji: Representasi Laku Orang Jawa

Karsono Harjo Saputra

Abstract


Ada dua kemungkinan besar suatu teks (sastra) diciptakan atau ditulis. Kemungkinan pertama, suatu teks ditulis untuk mencatat apa yang pernah terjadi dan apa yang pernah ada dalam masyarakat sehingga teks tersebut kemudian menjadi sarana pengingat, baik bagi penulisnya maupun bagi masyarakat sebagai ingatan kolektif. Dalam ranah sastra dan budaya Jawa, contoh ekstrim teks semacam ini adalah karya-karya yang kemudian dikelompokkan sebagai babad, yang juga disebut sebagai sastra sejarah, yakni suatu karya sastra yang ditulis berdasarkan peristiwa-peristiwa nyata namun penulisannya menggunakan pasemon atau perlambang yang diramu dengan berbagai unsur, antara lain sarasilah, hal-hal gaib, dongeng, legenda, dan mitos, yang kesemuanya berkelindan menjadi satu kesatuan. Kemungkinan kedua, teks diciptakan atau ditulis karena visi atau jangkauan masa depan. Contoh ekstrim teks semacam ini adalah teks-teks yang dapat dikelompokkan ke dalam “ramalan”, misalnya Jangka Jayabaya dan Serat Jakalodhang, yang secara perlambang mengisyaratkan peristiwa yang akan terjadi di kemudian hari. Sudah barang tentu ada pula teks yang ditulis dengan misi keduanya. Secara terbatas, teks-teks yang yang dikelompokkan ke dalam wulang dapat digunakan sebagai contoh. Teks wulang berisi ajaran sosial berdasar sistem nilai yang berlaku ketika teks ditulis namun dengan jangkauan ke depan, dengan asumsi penerapan ajaran itu akan mengakibatkan kehidupan dunia akan berjalan secara harmonis.

Keywords


cerita panji; laku; orang Jawa; naskah panji; manuskrip

Full Text:

PDF

References


Baried, Siti Baroroh, dkk. 1987 Panji: Citra Pahlawan Nusantara. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Berg, C.C. 1974 Penulisan Sejarah Jawa, diterjemahkan oleh S. Gunawan. Jakarta: Bhratara.

Christomy, Tommy. 2004. “Peircean dan Kajian Budaya” dalam Semiotika Budaya, T. Christomy & Untung Yuwono (peny.). Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia.

Hadiwijono, Harun. 1971 Agama Hindu dan Buddha. Djakarta: Badan Penerbit Kristen.

Hoed, Benny. H. 2002. “Strukturalisme, Pragmatik, dan Semiotik dalam Kajian Budaya. Sebuah Pengantar” dalam Indonesia Tanda yang Retak, Tommy Christomy (peny.). Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

Kaeh, Abdul Rahman. 1989. Panji Narawangsa. Kualalumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pendidikan Malaysia.

Karsono H Saputra. 1998. Aspek Kesastraan Panji Angreni. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

__________________. 2005. Percik-Percik Bahasa dan Sastra Jawa. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

Munandar, Agus Aris. 1992. “Cerita Panji dalam Masyarakat Majapahit Akhir” dalam Lembaran Sastra Universitas Indonesia 17/Juli 1992, hlm. 1-16. Depok: Fakultas Sastra UI.

Nöth, Winfried. 1990. Handbook of Semiotik. Bloomington and Indiana Polis: Indiana University Press.

Pigeaud, Theodore G. Th.. 1967. Literature of Java. Catalogue Raisonné Javanese Manuscripts in the Library of the University of Leiden and Other Public Collections in the Netherlands. The Hague: Martinus Nyhoff.

Poerbatjaraka, R.M.Ng. 1968. Tjerita Pandji dalam Perbandingan, diterjemahkan oleh Zuber Usman dan H.B. Jassin. Djakarta: Gunung Agung.

Rahardjo, Supratikno. 2002. Peradaban Jawa. Dinamika Pranata Politik, Agama, dan Ekonomi Jawa Kuno. Jakarta: Komunitas Bambu.

Rassers, W.H. 1922. De Pandji-Roman. Antwerpwn: D. de Vos-Van Kleff.

Robson, S.O. 1971. Waŋbaŋ Wideya. The Hague: Martinus Nijhoff.

Saleh, Ratiya. 1988. Panji Thai dalam Perbandingan dengan Cerita-Cerita Melayu. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia.

Scott, Wilbur. 1974. Five Approaches of Literary criticism. New York-London: Collier Books-Collier Macmillan Publishers.

Sedyawati, Edi. 1982. “Kata Pengantar” dalam Kern, Çiva dan Buddha. Dua Karangan tentang Çivaїsme dan Buddhisme di Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Slametmuljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.

van Zoest, Aart. 1993. Semiotika. Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya, diterjemahkan oleh Ani Soekawati. Jakarta: Yayasan Sumber Agung.

Wellek, René dan Austin Warren. 1967. Theory of Literature. Auckland: Penguin Books.

Zaimar, Okke K.S. 2008. Semiotik dan Penerapannya dalam Karya Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa Pendidikan Nasional.

Zoetmulder. P.J. 1983. Pantheism and Monism in Javanese Suluk Literature. Islamic and Indian Mystycism in an Indonesian Setting, edited and translates by M.C. Ricklefs. Leiden: KITLV Press.

_______________. 1990. Manunggaling Kawula Gusti. Pantheïsme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa. Suatu Studi Filsafat, diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Jakarta: PT Gramedia 1990, bekerja sama dengan Perwakilan Koninklijk Institut voor Taal-, Land-, en Volkenkunde dan Ilmu Pengetahuan Indonesia.




DOI: https://doi.org/10.37014/jumantara.v1i1.105

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2019 Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Sekretariat:
Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara
 - Perpustakaan Nasional RI
Jalan Medan Merdeka Selatan, Nomor 11, Jakarta Pusat